Sunday, August 31, 2014

Terapi dini, intensif dan terpadu pada penyandang autis

Pada anak penyandung autis akan ada gejala yang sangat menonjol pada sikapnya  yaitu cenderung tidak ambil pusing urusan orang orang sekelilingnya, tidak suka seperti orang normal berkomunikasi, berinteraksi, dia akan sibuk dengan "dunianya" sendiri. Apalagi disuruh memahami berkomunikasi secara verbal, wah susah.Didalam beberapa juga diketahui kalau orang dengan autisme akan merasa sulit yang namanya multitasking, cenderung kaku, susah apalagi disuruh melakukan tugas-tugas yang berurutan.Gangguan kesulitan berkomunikasi beinteraksi lingkungannya bisa terjadi seumur hidup.
Adapun ciri fisik yang ditemukan pada anaK autisme,:
- Wajah yang lebih lebar, begitu juga mata yang lebih besar.
- Bagian tengah wajahnya lebih pendek, pipi dan hidung.
- Mulut dan philtrum, antara hidung dan bibir lebih luas.

Namun autis dapat disembuhkan melalui terapi intensif nan terpadu, dan diet khusus bagi penyandangnya.
pun Adterapi prilaku diantaranya menggunakan metode yang dikembangkan Ivar Lovaas dari UCLA yaitu konsep Aplied behavior Analysis (ABA).Pastikan melakukan diet tidak mengkonsumsi terigu, coklat dan susu karena berdasarkan kajian terapi biomedik jenis makanan ini memperparah kondisinya.
Kalau diet gula, terigu dan coklat dapat dilakukan, Insya Allah akan memperbaiki fungsi-fungsi abnormal pada otaknya sehingga saraf pusat bekerja lebih baik dan berbagai gejala autis dapat dikurangi bahkan dihilangkan.Apabila dipandang perlu masih ada terapi lain sebagai penunjang berupa medikamentosa, okupasi dan fisik, wicara, bermain dan terapi khusus.Kunci dari semua itu adalah terapi dini, intensif dan terpadu pada penyandang autis akan bisa sembuh, katanya.Ya utamanya terlebih dulu minta , berdoa dulu pada Allah. Allah lah tempat manusia memminta, Allah tidak pernah bosen dimintai hambanya, beda dengan manusia. Barulah kita ikhtiar lewat apa saja yang halal dan yang barokah. Insya Allah akan mendengar.
Innallaha samiun do'a. Lebih lanjut kita perlu perhatikan pendapat pendapat berikut.



Cara mengobati penyakit autisme

” Tahitian Noni mampu memperbaiki / menyumbat jaringan saraf otak yang bocor sehingga protein, glukosan dan zat-zat nutrisi yang lain tidak sampai keluar dari jaringan syaraf di otak.” autis

Autis adalah gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak, yang gejalanya sudah timbul sebelum  anak itu mencapai usia tiga tahun.
Penyebab autis adalah gangguan neurobiologis yang mempengaruhi fungsi otak sedemikian rupa sehingga anak tidak mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia luar secara efektif.Obat Penyakit Autis
Gejala yang sangat menonjol adalah sikap anak yang cenderung tidak mempedulikan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya, seolah menolak berkomunikasi dan berinteraksi, serta seakan hidup dalam dunianya sendiri.
Anak autistik juga mengalami kesulitan dalam memahami bahasa dan berkomunikasi secara verbal.

Obat Penyakit Autis
Disamping itu seringkali (prilaku stimulasi diri) seperti berputar-putar, mengepak-ngepakan tangan seperti sayap, berjalan berjinjit dan lain sebagainya.Obat Penyakit Autis
Gejala autisme sangat bervariasi. Sebagian anak berperilaku hiperaktif dan agresif atau menyakiti diri, tapi ada pula yang pasif. Mereka cenderung sangat sulit mengendalikan emosinya dan sering tempertantrum (menangis dan mengamuk). Kadang-kadang mereka menangis, tertawa atau marah-marah tanpa
sebab yang jelas.
Selain berbeda dalam jenis gejalanya, intensitas gejala autis juga berbeda-beda, dari sangat ringan sampai sangat berat.Oleh karena banyaknya perbedaan-perbedaan tersebut di antara masing-masing individu, maka saat ini gangguan perkembangan ini lebih sering dikenal sebagai Autistic Spectrum Disorder (ASD) atau Gangguan Spektrum Autistik (GSA).
Autisme dapat terjadi pada siapa saja, tanpa membedakan warna kulit, status sosial ekonomi maupun pendidikan seseorang. Tidak semua individu ASD/GSA memiliki IQ yang rendah. Sebagian dari mereka dapat mencapai pendidikan di perguruan tinggi. Bahkan ada pula yang memiliki kemampuan luar biasa di
bidang tertentu (musik, matematika, menggambar).Obat Penyakit Autis Prevalensi autisme menigkat dengan sangat mengkhawatirkan dari tahun ke tahun. Menurut Autism Research Institute di San Diego, jumlah individu autistik pada tahun 1987 diperkirakan 1:5000 anak. Jumlah ini meningkat dengan sangat pesat dan pada tahun 2005 sudah menjadi 1:160 anak. Di Indonesia belum ada data yang akurat oleh karena belum ada pusat registrasi untuk autisme. Namun diperkirakan angka di Indonesia pun mendekati angka di atas. Autisme lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita, dengan perbandingan 4:1

Ada tiga ciri fisik yang ditemukan pada anak-anak dengan autisme.
VIVAnews – Anak dengan autisme ternyata memiliki karakteristik wajah tertentu saat dibandingkan dengan anak normal. Ini merupakan hasil analisis tim peneliti dari University of Missouri, Amerika Serikat, yang melakukan pemetaan wajah, pada anak dengan autisme dan juga anak normal.
Wajah dan otak memang berkembang bersama-sama dan saling memengaruhi. Hal ini dimulai sejak embrio dan terus berlanjut hingga masa remaja. Para ilmuwan percaya bahwa hal ini bisa membantu mereka mengetahui secara lebih detail ketika autisme mulai terjadi pada anak.
 Mereka juga mengungkapkan, hal ini bisa memberikan petunjuk terkait penyebab autisme. Autisme merupakan gangguan yang membuat seseorang kesulitan berkomunikasi dengan lingkungannya, seumur hidup.
Dari kesimpulan tim yang dipimpin oleh Profesor Kristina Aldridge, ada tiga ciri fisik yang ditemukan pada anak-anak dengan autisme, yaitu:
1. Memiliki wajah yang lebih lebar, termasuk mata yang lebih besar.
2. Bagian tengah wajahnya lebih pendek, termasuk pipi dan hidung.
3. Memiliki mulut dan philtrum, area antara hidung dan bibir, yang lebih luas.

“Jika bisa mengidentifikasi saat perubahan wajah terjadi, kita bisa mengetahui kapan autisme mulai berkembang pada seorang anak. Mengetahuinya bisa mempermudah kita menganalisis pemicu autis, baik terkait faktor genetik maupun lingkungan,” kata Aldridge, seperti dikutip dari Daily Mail.
Tim menganalisis 64 wajah anak lelaki dengan autisme dan 41 anak laki-laki normal yang berusia delapan hingga 12 tahun. Foto mereka diambil menggunakan kamera dengan sistem tiga dimensi. Dari foto, lalu dipetakan 17 titik pada wajah, seperti sudut mata.
Penghitungan geometri pun dilakukan pada keseluruhan wajah, menggunakan 17 titik-titik tersebut. Hasilnya, ketika dilakukan perbandingan dengan wajah anak normal, ada perbedaan statistik yang signifikan dalam bentuk wajah.

Ciri Fisik Anak Autis Terletak di Mata dan Bibir
AN Uyung Pramudiarja – detikHealth
Jakarta, Autisme termasuk gangguan perilaku, sehingga agak susah dikenali secara fisik. Namun sebuah penelitian berhasil memetakan beberapa perbedaan bentuk wajah pada penyandang autis, terutama pada lebar bibir dan jarak antara kedua mata.
Penelitian yang dilakukan para ilmuwan dari University of Missouri ini menyimpulkan, perkembangan wajah dan otak terjadi bersamaan sejak di dalam kandungan. Keduanya juga saling mempengaruhi, namun tidak diketahui pasti bagaimana mekanisme sebenarnya.
Dengan memetakan perbedaan bentuk wajah pada penyandang autis, maka diharapkan orangtua bisa mendeteksi lebih dini jika ada anak-anak yang menunjukkan gejala autisme. Deteksi dini akan mempermudah pendampingan, sehingga pertumbuhan mental dan kecerdasannya bisa disesuaikan.
Berikut ini beberapa perbedaan pada wajah, yang membedakan anak-anak penyandang autis seperti dikutip dari Dailymail, Jumat (21/10/2011).
1. Memiliki jarak yang lebih lebar antara kedua mata
2. Bagian tengah wajah lebih sempit, termasuk daerah pipi dan hidung
3. Memiliki bibir dan philtrum (daerah antara hidung dengan bibir) yang lebih lebar.

Ciri-ciri ini diungkap oleh para ilmuwan setelah melakukan pengamatan terhadap 62 anak berusia 12 tahun yang didiagnosis mengidap autisme. Sebagai pembandingnya, para ilmuwan juga mengamati 41 anak yang tidak memiliki riwayat atau gejala klinis autisme.Dalam pengamatan, para ilmuwan memotret wajah para partisipan dengan kamera khusus yang bisa menghasilkan gambar 3-dimensi. Berdasarkan gambar-gambar
tersebut, perbedaan-perbedaan ciri fisik akhirnya ditemukan di 17 titik antara lain di ujung mata, philtrum dan bibir.“Dari temuan ini kita bisa kembangkan untuk mengetahui pada titik mana gangguan autisme mulai terbentuk. Ini akan menjembatani spekulasi antara faktor genetik dengan lingkungan,” ungkap Prof Kristina Aldridge yang memimpin penelitian itu.
Temuan ini sekaligus menguatkan dugaan bahwa gangguan koordinasi otak pemicu autisme sudah terjadi sejak dalam kandungan. Namun hingga kini, para ilmuwan belum menyimpulkan apakah autisme hanya dipengaruhi faktor genetik atau dipengaruhi juga oleh lingkungan.

Orang Autis Sulit Melakukan Multitasking
Vera Farah Bararah – detikHealth Jakarta,

Bagi beberapa orang melakukan multitasking bukanlah pekerjaan yang sulit, tapi tidak untuk orang autisme. Studi menemukan pekerjaan multitasking akan menjadi tantangan yang cukup sulit bagi orang autisme.Studi yang dilakukan oleh peneliti India mengungkapkan orang dengan autisme akan merasa sulit melakukan multitasking karena mereka cenderung kaku untuk melakukan tugas-tugas yang berurutan.
Dalam studi ini peneliti memberikan serangkaian tugas pada siswa, seperti mengumpulkan dan mengantarkan buku serta membuat secangkir coklat panas yang semuanya harus dilakukan dalam waktu 8 menit.Kegiatan ini dilakukan dalam lingkungan virtual yang dihasilkan oleh komputer. Peneliti menemukan para siswa tidak menyimpang dari urutan tugas yang ada didaftar, tapi mereka melanggar beberapa aturan tugas. Studi ini dipimpin oleh Dr Gnanathusharan Rajendran, selaku dosen di Psychology at Strathclyde, serta melibatkan peneliti dari University of Edinburgh dan Liverpool John Moores University.
“Murid dengan autisme bisa menyelesaikan dengan baik jika diberikan satu tugas, tapi kesulitan akan muncul ketika ia diminta melakukan beberapa tugas dalam waktu yang sama,” ujar Dr Rajendran, seperti dikutip dari Medindia, Jumat (19/8/2011).

Dr Rajendran menuturkan studi ini merupakan yang pertama kalinya menggunakan sebuah lingkungan virtual, sehingga bisa lebih dekat dalam memeriksa dan melihat kemungkinan dibalik masalah tersebut.
“Penelitian kami menunjukkan masalah yang nyata pada orang muda dengan autisme yang melakukan multitasking, dan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mencari solusi yang memungkinkan,” ungkapnya.

Autisme Bisa Hilang di Usia 18 Tahun
Liputan6.com, Jakarta : Penelitian menunjukkan beberapa anak yang didiagnosis Autis pada usia anak, ketika dewasa gejala tersebut hilang.Sebuah penelitian skala kecil yang diterbitkan dalam Journal of Child
Psychology and Psychiatrymendiagnosis anak autis dari usia balita hingga 21 tahun. Penelitian menunjukkan kalau anak autis akan sembuh pada usia 18 sampai 21 tahun.
Menurut penelitian, anak tidak lagi menunjukkan kesulitan dalam pidato maupun berkomunikasi, mengenali wajah orang atau interaksi sosial dan beberapa perilaku lainnya.“Meskipun diagnosis autisme biasanya tidak hilang dari waktu ke waktu, penemuan ini menunjukkan kalau mungkin memang ada rentang waktu bagi anak autis untuk bisa meningkatkan kemampuannya,” kata Thomas Insel, Director of the National Institute of Mental Health.
Penelitian sebelumnya memang menyebutkan kalau autisme akan hilang dari waktu ke waktu.Para penulis kini mempertanyakan apakah diagnosis awal telah akurat dan apakah mata pelajaran yang telah diajarkan oleh rekan-rekan mereka. Para peneliti mengatakan untuk kedua kasus ini ‘ya’.Penelitian yang dipimpin oleh Deborah Fein dari University of Connecticut, dalam laporan akhirnya menuliskan kalau anak-anak telah didiagnosis dan diperiksa oleh para ahli di luar kelompok penelitian.Hasil analisis menunjukkan kalau 34 gejala autisme hilang ketika dewasa.Tapi gejala lain, termasuk keterlambatan bahasa dan perilaku berulang,
sudah setara dengan kelompok lainnya.Pengujian kontemporer dari subjek penelitian semuanya bersekolah di kelas utama dengan tidak ada layanan khusus. Hal ini menegaskan kalau orang dewasa yang dulunya didiagnosis autisme tidak lagi dianggap sebagai kekurangan.
Tetapi penulis menekankan bahwa studi ini menawarkan pengetahuan bukan pada persentase anak-anak dengan gangguan spektrum autisme atau ASD.“Semua anak-anak dengan ASD mampu membuat kemajuan dengan terapi intensif, namun dengan keadaan kita saat ini pengetahuanlah yang paling tidak mencapai hasil yang optimal,” kata penulis penelitian, Fein.“Harapan kami adalah penelitian ini lebih lanjut akan membantu kita untuk lebih memahami mekanisme perubahan anak sehingga setiap anak dapat memiliki kehidupan terbaik,” katanya. (Fit/Igw)

Autis dapat disembuhkan dengan dua cara ini
Sabtu, 29 Maret 2014 20:39 WIB | 10.855 Views
Pewarta: Ikhwan Wahyudi
Autis dapat disembuhkan dengan dua cara ini
Ilustrasi Penderitaa Autis (Grafis)
Padang (ANTARA News) - Psikiater dan pemerhati autisme, dr Kresno Mulyadi, Sp.KJ menyatakan autis dapat disembuhkan melalui terapi intensif nan terpadu, dan diet khusus bagi penyandangnya."Jika ada yang berpendapat autisme sudah baku dan tidak ada lagi harapan itu paradigma lama. Berdasarkan temuan terbaru gangguan Autis dapat disembuhkan melalui terapi dini secara intensif dan terpadu", kata Kresno di Padang, Sabtu, pada Seminar Autism is Curable (autisme bisa sembuh). Ia menerangkan terapi yang dapat dilakukan meliputi terapi prilaku diantaranya menggunakan metode yang dikembangkan Ivar Lovaas dari UCLA yaitu konsep Aplied behavior Analysis (ABA).Terapi ABA dilakukan intensif selama 40 jam per minggu dalam dua tahun di mana berdasar hasil penelitian terjadi peningkatan IQ yang besar pada penyandangnya, katanya.Kemudian, penyandang autis harus melakukan diet tidak mengkonsumsi terigu, coklat dan susu karena berdasarkan kajian terapi biomedik jenis makanan ini memperparah kondisinya.Ia menjelaskan pada penyandang autis terjadi peningkatan daya serap di mana protein yang seharusnya tidak lolos pada makanan yang mengandung cokelat, terigu dan susu masuk ke peredaran darah dan terbawa ke otak.Setelah berada di otak zat yang terkandung pada makanan ini dinilai oleh saraf memiliki rumus kimia seperti morfin sehingga memperburuk kondisi penyandang autis dan dapat diibaratkan tengah mengkonsumsi morfin.Sedangkan makanan yang mengandung terigu akan memperparah pencernaan penyandang autis yang umumnya berjamur, kata dia.Oleh karena itu pada penyandang autis, diet gula, terigu dan coklat akan memperbaiki fungsi-fungsi abnormal pada otaknya sehingga saraf pusat bekerja lebih baik dan berbagai gejala autis dapat dikurangi bahkan dihilangkan.Setelah itu jika diperlukan masih ada terapi lain sebagai penunjang berupa medikamentosa, okupasi dan fisik, wicara, bermain dan terapi khusus.Kunci dari semua itu adalah terapi dini, intensif dan terpadu sehingga penyandang autis akan bisa sembuh, katanya.Ia mengatakan di Indonesia telah banyak penyandang autis yang dapat disembuhkan dengan terapi tersebut dan berhasil menyelesaikan studinya hingga meraih gelar sarjana.Autis pertama kali diperkenalkan Leo Kanner pada 1943 dari bahasa Yunani "Autos" yang memiliki arti sendiri atau seolah-olah hidup di dunianya sendiri.
Autis merupakan gangguan perkembangan neurobiologis berat pada anak sehingga menimbulkan masalah dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.Gejala Autis dapat dikenali dengan ciri-ciri minimnya interaksi dan emosi yang labil serta buruknya kualitas komunikasi penyandangnya pada tiga tahun
pertama kehidupannya.Penyandang autis memiliki gangguan interaksi sosial , komunikasi, imajinasi serta pola prilaku yang berulang serta tidak mengikuti perubahan rutinitas sehingga mereka terlihat aneh dan berbeda dengan anak lain.Autis dapat terjadi pada anak siapa saja tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, budaya dan etnik di mana berdasarkan data 2012 dari 1.000 orang terdapat delapan penyandang autis didunia, sedangkan di Indonesia  mencapai 2,4 juta orang dengan penambahan penyandang baru 500 orang per tahun.
Autis disebabkan oleh adanya gangguan perkembangan otak akibat faktor genetik serta kondisi lingkungan berupa buruknya kualitas udara menyebabkan terjadinya pencemaran logam berat.Salah seorang warga Padang yang keluarganya menderita penyakit ini, Anwar (45), menilai informasi tentang autis dapat disembuhkan ini, akan banyak membantu penderitanya karena harapan akan kembali sembuh menjadi terbuka.











Tuesday, August 26, 2014

PENANGANAN ANAK AUTIS

Umumnya anak autis awalnya tidak bisa bicara.Dalam keluarga jarang sekali anggota keluarga punya pengetahuan tentang penyakit ini. Dengan kesibukan masing masing anggota keluarga sering kali anak ini terabaikan. Jarang sekali yang sabar untuk merawatnya apalagi yang hubungannya jauh walau dalam keluarga. Kadang kadang untuk makan saja harus dibentak bentak, kadang anak bisa menurut, kadang tambah gak karuan. Belum lagi kalau sudah agak besar, kalau tidak dijaga ketat bisa kabur keluar rumah, mencarinya sak tetangga jadi ikut repot, kalau tetangga ambil perhatian. Sebaiknya keluarga autis memahami ini semua agar anak tidak bertambah menderita dan sengsara. Berikut informasi yang mungkin bermanfaat merawat mengasuh anak penderita autis.


Autisme adalah kategori ketidakmampuan yang ditandai dengan adanya gangguan dalam komunikasi, interaksi sosial, gangguan indrawi, pola bermain dan perilaku emosi. Anak-anak dengan berkebutuhan khusus seperti autis membutuhkan cara penanganan khusus. Orang tua dan pendidik perlu informasi yang memadai mengenai gangguan pada anak-anak sedini mungkin, sekaligus bagaimana cara menangani yang tepat.


CIRI_CIRI ANAK AUTIS
Beberapa perilaku yang nampak pada anak yang mengalami gangguan autisme antara lain:
Dalam bidang penginderaan anak-anak ini menunjukkan respon yang tidak wajar. Ada yang tampak begitu menikmati jatuhnya sinar matahari dari balik jendela, ada yan gsibuk memutar-mutar benda bulat di depannya selama berjam-jam.
Anak autis biasanya mengeksplorasi lingkungannya melalui indera peraba, pengecapan, dan pembauan seperti anak-anak kecil di bawah usiannya. Setiap kali memegang benda, anak autis cenderung mencium baunya terlebih dahulu.
Anak autis menunjukkan kurang sekali kontak mata dengan orang lain yang biasanya disertai dengan perilakuyang tidak wajar lainnya seperti tertarik dengan sinar atau benda gemerlap.
Beberapa anak autis bahkan tidak pernah berbicara walau mereka mengeluarkan suara-suara. Suara-suara yang dikeluarkan oleh anak autis itu tidak jelas dan biasanya berupa teriakan-teriakan.
Suka melambaikan tangan, berjalan berjingkat, goyang-goyang tubuh dengan ekspresi wajah yang aneh, badannya sangat kaku, kadang badannya berputar-putar tanpa merasa pusing.

CARA MENGASUH ANAK AUTIS
Mengasuh anak autis sebaiknya dengan mengembangkan rutinitas yang konsisten pada anak, karena anak autis ini akan mengalami kesulitan pada suatu perubahan yang tidak dia inginkan dan tidak terstruktur. Berikut adalah beberap cara mengsuh anak autis:
Cari sebab dibalik gejala, misal saat anak mengamuk. Begitu menemukan penyebabnya, Anda bisa menyesuaikan diri.
Jangan paksa bicara, karena bagi sebagian besar penyandang autisme, ungkapan verbal tak ada artinya. Pastikan diri Anda paham apa yang dikomunikasikan melalui ekspresinya.
Belajar hidup dengan perilaku stereotip. Saat di tempat umum ajarkan anak berperilaku sebagaimana mestinya. Tetapi di rumah, biarkan dia sebagaimana dirinya. Terlalu banyak stimulasi, dan tuntutan perilaku baru, akan sulit ditoleransi oleh anak autis ini. Program mengurangi perilaku tertentu harus dilakukan dengan hati-hati.Kerjasama dengan sekolah, bahwa kurikulum untuk anak penyandang autisme berpusat pada self care dan keterampilan bersosialisasi.
Jauhkan anak dari role model yang berperilaku kasar. Anak penyandang autisme cenderung meniru perilaku tanpa pemahaman mengapa orang melakukannya.Jangan tuntut anak untuk bisa beradaptasi dengan orang baru dan situasi baru. Biarkan dia menjaga jarak dan punya peluang untuk menyingkir.

TEKNIK MENGAJAR ANAK AUTIS DI KELAS
Mengajar anak autis merupakan tugas yang menantang, terutama bagi yang belum pernah memiliki pengalaman menangani anak-anak  ketidakmampuan belajar. Meskipun lambat, anak autis bisa dilatih untuk membaca, menulis, dan elajar. Diperlukan kesabaran dan ketekunan ketika menghadapi anak-anak dengan autisme. Berikut ini beberapa teknik yang bisa dilakukan untuk mengajar anak-anak dengan autisme:
Tidak Melakukan Modifikasi Jadwal. Anak-anak autis tidak suka variasi karena mereka lebih menyukai rutinitas yang sama serta kebiasaan berulang.
Oleh karena itu, sebaiknya tidak melakukan perubahan jadwal untuk anak dengan autisme. Namun, bukan tidak mungkin untuk melakukan sedikit modifikasi jadwal bila memang dibutuhkan.
Memilih  Gaya Belajar. Setiap anak memiliki gaya belajar tertentu. Beberapa anak mungkin lebih cepat menyerap informasi dengan cara mendengar, sementara anak yang lain lebih cenderung pada gaya belajar visual. Pada beberapa anak, media gambar menjadi bahasa pengantar utama dalam belajar.
Sebagai guru atau orang tua, Anda perlu mencari tahu metode mana yang membantu anak untuk fokus pada apa yang diajarkan. Anak autis cenderung kehilangan minat bila mereka tidak mengerti apa yang diajarkan. Jadi, memilih gaya belajar yang sesuai akan membuat anak mampu beradaptasi lebih baik.
Menggunakan Bahasa Sederhana. Menggunakan kata-kata sederhana serta kalimat pendek ketika berkomunikasi dengan anak-anak autis sangat dianjurkan.
Kalimat yang panjang dan kompleks hanya akan membuat anak bingung. Kalimat yang pendek lebih mudah dibaca, ditulis ulang, serta dipahami oleh anak.
Menggunakan Objek Menarik Ketika Belajar. Anak-anak autis biasanya memiliki mainan favorit. Gunakan mainan favoritnya sebagai salah satu teknik untuk mengajar mereka. Bila mainan favorit anak adalah mobil, Anda bisa bercerita tentang kisah-kisah yang melibatkan mobil. Bisa juga menggunakan mainan mobil kecil untuk mendapatkan perhatian anak.
Menangani Masalah Menulis. Sebagian besar anak autis menghadapi masalah dengan keteralmpilan motorik mereka. Anak autis tidak dapat mengendalikan tangan sehingga kesulitan untuk menulis rapi. Hal ini bisa membuat anak merasa putus asa. Untuk mengatasi hal tersebut, mintalah anak untuk mengetik di komputer atau di laptop. Mengetik di komputer bisa membantu anak belajar lebih cepat tanpa merasa kecewa saat melihat hasil tulisan mereka. Selain itu, cara ini bisa memotivasi anak untuk menikmati proses menulis.
Mengenali Bakat. Anak-anak dengan autisme biasanya sedikit lebih lambat dalam berkomunikasi dan proses belajar dibandingkan dengan anak-anak lain seusia mereka. Namun, banyak diantara anak-anak autis yang memiliki bakat melukis, memainkan alat musik, membuat kerajinan, bahkan pemrograman komputer. Pikiran mereka sangat kreatif dan seringkali menghasilkan karya seni yang luar biasa. Penting bagi guru atau orang tua untuk mengidentifikasi bakat anak autis serta membantu mengembangkannya. Bakat ini bisa dipoles sehingga dapat digunakan sebagai keterampilan untuk kehidupan maupun karir mereka di masa depan.

PEMILIHAN MAKANAN UNTUK ANAK AUTIS
Berikut ini adalah hal-hal yang harus diperhatikan bagi orang tua dalam memberikan makanan bagi anak-anak mereka yang menyandang autisme.
Makanan yang dihindari
Makanan yang mengandung gluten, yaitu semua makanan dan minuman yang dibuat dari terigu, '''''''havermuth, dan oat misalnya roti, mie, kue-ku-
Produk-produk lain seperti soda kue, baking soda, kaldu instant, saus tomat dan saus lainnya, serta lada bubuk, mungkin juga menggunakan tepung terigu sebagai bahan campuran. Jadi, perlu hati-hati pemakaiannya. Cermati/baca label pada kemasannya.
Makanan sumber kasein, yaitu susu dan hasil olahnya, misal es krim, keju, mentega, yogurt, dan makanan yang menggunakan susu.
Daging, ikan, atau ayam yang diawetkan dan diolah seperti sosis, kornet, hotdog, sarden, daging asap, ikan asap, dan sebagainya. Tempe juga tidak dianjurkan terutama bagi anak yang alergi jamur karena pembuatannya menggunakan fermentasi ragi.
Buah dan sayur yang diawetkan seperti buah dan sayur dalam kaleng.
Semua jenis jamur segar maupun kering misalnya jamur kuping, jamur merang dan lain-lain.
Buah yang dikeringkan misalnya kismis, aprokot, kurma, pisang, prune, dan lain-lain.
Fruit juice/sari buah yang diawetkan, minuman beralkohol, dan semua minuman yang manis.
Makanan yang dianjurkan
Makanan sumber karbohidrat dipilih yang tidak mengandung gluten, misalnya beras, singkong, ubi, talas, jagung, tepung beras, tapioca, ararut, maizena, bihun, soun, dan sebagainya.
Makanan sumber protein dipilih yang tidak mengandung kasein, misalnya susu kedelai, daging, dan ikan segar (tidak diawetkan), unggas, telur, udang, kerang, cumi, tahu, kacang hijau, kacang merah, kacang tolo, kacang mede, kacang kapri dan kacang-kacangan lainnya.
Sayuran segar seperti bayam, brokoli, labu siam, labu kuning, kangkung, tomat, wortel, timun, dan sebagianya.
Buah-buahan segar seperti apel, anggur, pepaya, mangga, pisang, jambu, jeruk, semangka, dan sebagainya.
Makanan sumber karbohidrat: beras, tepung beras, kentang, ubi, singkong, jagung, dan tales. Roti atau biscuit dapat diberikan bila dibuat dari tepung yang bukan tepung terigu.
Makanan sumber protein seperti udang dan hasil laut lain yang segar.makanan sumber protein nabati seperti kacang-kacangan (almond, mete, kacang kedelai, kacang hijau, kacang polong, dan lainnya). Namun, kacang tanah tidak dianjurkan karena sering berjamur.
Semua sayuran segar terutama yang rendah karbohidrat seperti brokoli, kol, kembang kol, bit, wortel, timun, labu siam, bayam, terong, sawi, tomat, buncis, kacang panjang, kangkung, tomat, dan lain-lain.
Cara mengatur makanan secara umum
Berikan makanan seimbang untuk menjamin agar tubuh memperoleh semua zat gizi yang dibutuhkan untuk keperluan pertumbuhan, perbaikan sel-sel yang rusak dan kegiatan sehari-hari.
Gula sebaiknya dihindari, khususnya bagi yang hiperaktif dan ada infeksi jamur. Fruktosa dapat digunakan sebagai pengganti gula karena penyerapan fruktosa lebih lambat dibanding gula/sukrosa.
Minyak untuk memasak sebaiknya menggunakan minyak sayur, minyak jagung, minyak biji bunga matahari, minyak kacang tanah, minyak kedelai, atau minyak olive. Bila perlu menambah konsumsi lemak, makanan dapat digoreng.
Cukup konsumsi serat, khususnya serat yang berasal dari sayuran dan buah-buahan segar. Konsumsi sayur dan buah 3-5 porsi per hari.
Pilih makanan yang tidak menggunakan food additive (zat penambah rasa, zat pewarna, zat pengawet).
Bila keseimbangan zat gizi tidak dapat dipenuhi, pertimbangkan pemberian suplemen vitamin dan mineral (vitamin B6, vitamin C, seng, dan magnesium).
Membaca label makanan untuk mengetahui komposisi makanan secara lengkap dan tanggal kadaluwarsanya.
Berikan makanan yang cukup bervariasi. Bila makanan monoton, maka anak akan bosan.
Hindari junk food seperti yang saat ini banyak dijual, ganti dengan buah dan sayuran segar.
Semoga saja informasi di atas bermanfaat. Dan sayangilah anak Anda, terimalah mereka apa adanya. Salam hangat.


source : duniaanakbalita.blogspot.com

Thursday, May 1, 2014

Memahami tentang autis adalah kunci, buat orang tua dan anggota keluarga

Memahami tentang autis adalah kunci, buat orang tua dan anggota keluarga. Memahami tentang autisme adalah kunci untuk menolong penderita autis. Semakin Anda tahu tentang gangguan, semakin baik Anda
dapat membantu orang yang menderita tentang hal tersebut.  Autisme adalah masalah yang kompleks, dan banyak dari kalangan  peneliti mengembangkan pemahaman baru, berapa jauh dari cara cara aplikasi penelitian itu,  mempengaruhi tubuh, pilihan pengobatan yang mana yang lebih baik untuk akan disediakan, dengan harapan bahwa suatu hari nanti kita akan dapat menyembuhkan penyakit ini.
Para  orang tua mengharapkan bahwa dengan mengetahui sumber autisme, gangguan ini bisa disembuhkan atau setidaknya dapat dicegah. Sayang seribu sayang, tak satupun dari para ilmuwan yang berhasil menemukan satu alasan pun mengapa anak-anak menderita autisme, apa sebabnya terjadi pada diri anak itu. Banyak kemungkinan yang menjadi bahan pertimbangan para peneliti. Apakah pada suatu hari nanti, siapa tahu, mereka para ilmuan ada kemungkinan autisme akan dihubungkan dengan kelainan gen tertentu? Entahlah, apa yang akan terjadi akhirnya. Namun sumber yang lebih mungkin adalah suatu hal,  sejumlah faktor dalam dunia anak-anak. Karena sampai saat ini autisme itu tidak dapat dicegah atau disembuhkan, mengapa kita mempertimbangkan hal hal  yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk membantu anak-anak autis. Sedangkan  orang dewasa terutama orang tua , anggota keluarga berperan untuk memahami dan bersedia untuk berpikir jernih, dapat menerima dengan lapang dada berkompromi untuk membuat dunia yang nyaman bagi mereka si penderita begitu juga pada diri kita sendiri. Kalau bisa seperti itu, mengapa tidak.Tentu saja itu memerlukan kebesaran jiwa, terutama anggota keluarga yang terlibat didalam pengasuhan penderita. Memang kalau semua perbuatan amalan apapun diukur dengan ukuran kesenangan dunia semata tentulah hal ini merugikan tidak menyenangkan. Tetapi mengingat semua manusia umumnya beragama, sebagai orang yang beragama tentu punya keyakinan yang tinggi bahwa perbuatan menolong anak anak yang menderita autis itu adalah hal yang mulia, dan akan dibalas diganti oleh Allah dengan sorga disisinya.Ada hal-hal tertentu yang perlu disingkirkan dari pemikiran kita semua seperti hal hal yang tidak menyebabkan autisme.Ada mitos, ini harus diletakkan pada proporsinya dengan benar jangan diteruskan berpikir seperti itu segera diberhentikan. Apa itu? Orang tua yang buruk bukan menyebabkan autisme. Dulu orang orang berpendapat begitu,  ibu disalahkan karena trauma anak-anak mereka dengan teknik pengasuhan dingin, yang tidak ambil perduli dengan pengasuhan anaknya, ini yang dianggap menyebabkan autisme. Ini jangan dijadikan pembenaran kalau ingin membentuk keluarga autis itu nyaman, sederhana tidak
benar. Begitu juga jangan ada pemikiran bahwa Autisme disebabkan oleh kekurangan gizi, itu juga tidak betul. Walaupun alergi makanan bisa saja terjadi pada anak-anak autis dan sehingga diantara anak-anak autis dibantu dengan mengkonsumsi sebagian vitamin sehari-hari. Berpikiran baik, menjauhkan diri dari sangka sangka jelek, menjauhkan diri dari mitos yang jelek-jelek , itu baik buat lingkungan manusia itu, baik juga buat orang itu sendiri, sesuai keyakinan agamanya. Karena Allah melarang hambanya untuk bersangka jelek, bahkan menyuruh mengganti dengan berdoa pada Allah dengan doa yang baik baik daripada bersangka jelek padanya.

Dari penelitian memang ada didapatkan banyak hubungan antara autisme dan otak. Mereka berpendapat kebanyakan orang dengan autisme memiliki otak yang lebih besar dan  berbeda dari otak yang khas. Perbedaan terjadi di banyak bagian otak, sehingga tidak dapat ditargetkan untuk salah satu kerusakan otak tertentu secara keseluruhan, itu tidak, melainkan kerusakan otak pada umumnya. Anak-anak autis juga menunjukkan tanda-tanda defisiensi imun, menurunnya daya imunisasi. Bukti dalam penelitian ini adalah belumlah kuat, tetapi penelitian masih terus berlangsung. Banyak individu autis memiliki masalah kesehatan lain yang berkaitan dengan menurunnya daya tahan tubuh. Secara keseluruhan, seakan akan hal-hal ini semua tampaknya mengarah ke genetika. Meskipun autisme bukan disebabkan oleh kesalahan orangtua, kemungkinan besar bahwa autisme ditemukan di tempat lain keturunan keluarga Anda pihak yang lain, dan itu menjadikan bagi orang tua untuk meningkatkan lebih dari satu anak autis, belum ada kepastian dan hubungan. Apakah autisme juga dapat dihubungkan dengan vaksinasi, hal ini pun masih sangat dipelajari. Bagaimana vaksinasi anak outis? Manfaat vaksinasi nya sangat lebih besar daripada risiko mereka menyebabkan autisme, sehingga jangan sampai mencegah anak divaksinasi hanya karena ketakutan sendiri. Sampaikan saja pada dokter  apa yang pemikiran dan kekhawatiran anda tentang vaksinasi terhadap si penderita autis.Sejauh ini tak seorang pun tahu apa yang menyebabkan autisme. Maka itu, sejauh yang dapat  dilakukan apa-apa kira kira untuk mencegah dan apa apa yang kira kira dapat menyembuhkan. Karena ketidakpastian ini, yang dapat kita lakukan hanya bisa mengobati orang-orang autis dalam kehidupan kita dengan yang terbaik dari kemampuan kita. Menjadikan satu satunya orang memahami dalam autisme adalah kunci segalanya. Semakin Anda tahu tentang gangguan, semakin baik Anda dapat membantu orang yang menderita dari itu. Autisme adalah masalah yang kompleks, dan sebagai peneliti mengembangkan pemahaman baru dari cara bagaimana itu mempengaruhi tubuh, cara pilihan pengobatan yang lebih baik akan tersedia, dengan harapan bahwa suatu hari, siapa yang tahu,  nanti kita akan dapat menyembuhkan penyakit ini.



id.wikipedia.org :
Autisme adalah kelainan perkembangan sistem saraf pada seseorang yang dialami sejak lahir ataupun saat masa balita. Karakteristik yang menonjol pada seseorang yang mengidap kelainan ini adalah kesulitan membina hubungan sosial, berkomunikasi secara normal maupun memahami emosi serta perasaan orang lain.Autisme merupakan salah satu gangguan perkembangan yang merupakan bagian dari Kelainan Spektrum Autisme atau Autism Spectrum Disorders (ASD) dan juga merupakan salah satu dari lima jenis gangguan dibawah payung Gangguan Perkembangan Pervasif atau Pervasive Development Disorder (PDD). Autisme bukanlah penyakit kejiwaan karena ia merupakan suatu gangguan yang terjadi pada otak sehingga menyebabkan otak tersebut tidak dapat berfungsi selayaknya otak normal dan hal ini termanifestasi pada perilaku penyandang autisme.Gejala-gejala autisme dapat muncul pada anak mulai dari usia tiga puluh bulan sejak kelahiran hingga usia maksimal tiga tahun. Penderita autisme juga dapat mengalami masalah dalam belajar, komunikasi, dan bahasa. Seseorang dikatakan menderita autisme apabila mengalami satu atau lebih dari karakteristik berikut: kesulitan dalam berinteraksi sosial secara kualitatif, kesulitan dalam berkomunikasi secara kualitatif, menunjukkan perilaku yang repetitif, dan mengalami perkembangan yang terlambat atau tidak normal.Di Amerika Serikat, kelainan autisme empat kali lebih sering ditemukan pada anak lelaki dibandingkan anak perempuan dan lebih sering banyak diderita anak-anak keturunan Eropa Amerika dibandingkan yang lainnya. Di Indonesia, pada tahun 2013 diperkirakan terdapat lebih dari 112.000 anak yang menderita autisme dalam usia 5-19 tahun. Sedangkan prevalensi penyandang autisme di seluruh dunia menurut data UNESCO pada tahun 2011 adalah 6 di antara 1000 orang mengidap autisme.



















Featured Post

Cara Membantu Anak Autis Mengembangkan Keterampilan Sosial di Rumah

  Purityfic Kids Multivitamin & Minerals Tablet Hisap Australia Tambah Nafsu Makan Anak Anak dengan spektrum autisme memiliki tantangan ...