Saturday, July 13, 2024

Faktor Risiko untuk Perkembangan Autisme pada Anak

 


Autisme adalah gangguan perkembangan kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik genetik maupun lingkungan. Meskipun belum ada satu penyebab tunggal yang dapat diidentifikasi, penelitian telah mengidentifikasi beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seorang anak mengembangkan autisme. Memahami faktor-faktor ini dapat membantu dalam upaya pencegahan atau intervensi dini yang lebih efektif. Berikut adalah beberapa faktor risiko yang terkait dengan perkembangan autisme pada anak:


 1. Faktor Genetik


Faktor genetik memainkan peran penting dalam risiko autisme. Anak-anak yang memiliki saudara kandung dengan autisme memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengembangkan kondisi ini. Beberapa studi juga menunjukkan adanya keterkaitan genetik dalam keluarga yang memiliki riwayat autisme.


 2. Gangguan Genetik dan Kelainan Kromosom


Beberapa kondisi genetik seperti Sindrom Down, Sindrom Fragile X, dan gangguan lain yang terkait dengan kelainan kromosom dapat meningkatkan risiko autisme. Kelainan struktural atau fungsional pada otak juga telah dikaitkan dengan autisme pada beberapa kasus.


 3. Faktor Lingkungan


Meskipun faktor genetik memiliki peran dominan, faktor lingkungan juga diketahui berkontribusi terhadap perkembangan autisme. Paparan terhadap zat kimia tertentu selama kehamilan, seperti valproat dan thalidomide, telah dikaitkan dengan peningkatan risiko autisme. Selain itu, komplikasi kehamilan, infeksi selama kehamilan, dan faktor-faktor lingkungan lainnya juga dapat memainkan peran dalam perkembangan autisme.


 4. Umur Orang Tua


Beberapa penelitian menunjukkan bahwa usia ibu dan ayah saat melahirkan anak dapat mempengaruhi risiko autisme. Usia ibu yang lebih tua atau usia ayah yang lebih tua pada saat konsepsi dapat meningkatkan kemungkinan anak mengembangkan autisme, meskipun hubungan pastinya masih diperdebatkan dalam penelitian ilmiah.


 5. Gangguan Kesehatan Mental pada Orang Tua


Penelitian juga menunjukkan bahwa adanya gangguan kesehatan mental pada orang tua, seperti gangguan bipolar atau skizofrenia, dapat meningkatkan risiko autisme pada anak mereka. Faktor-faktor ini menunjukkan adanya kompleksitas dalam interaksi antara faktor genetik dan lingkungan dalam perkembangan autisme.


 6. Interaksi Antara Faktor Genetik dan Lingkungan


Penting untuk dicatat bahwa perkembangan autisme biasanya melibatkan interaksi antara faktor genetik dan lingkungan. Tidak ada satu faktor tunggal yang dapat secara definitif menyebabkan autisme pada anak. Namun, pemahaman terus berkembang mengenai bagaimana faktor-faktor ini saling berinteraksi dalam mempengaruhi risiko autisme dapat membantu dalam pendekatan pencegahan dan intervensi yang lebih baik di masa depan.


 Kesimpulan


Memahami faktor risiko untuk perkembangan autisme adalah langkah penting dalam pendekatan kesehatan yang holistik untuk anak-anak. Meskipun belum ada cara untuk mencegah sepenuhnya autisme, pengetahuan tentang faktor-faktor yang mempengaruhinya dapat membantu dalam mengenali gejala lebih awal dan memberikan dukungan yang sesuai bagi anak-anak dengan autisme dan keluarga mereka.

Perbedaan antara Autisme dan Gangguan Perkembangan Lainnya

  



Autisme dan gangguan perkembangan lainnya sering kali menimbulkan kebingungan karena beberapa gejala mirip atau overlapping. Namun, ada perbedaan khusus yang membedakan autisme dari gangguan perkembangan lainnya. Mengetahui perbedaan ini penting untuk memastikan diagnosis yang tepat dan memberikan intervensi yang sesuai. Berikut adalah beberapa perbedaan utama antara autisme dan beberapa gangguan perkembangan lainnya yang sering disalahartikan:


 1. Autisme vs Gangguan Perkembangan Bahasa


Autisme: Anak dengan autisme sering mengalami kesulitan dalam bahasa, seperti keterlambatan dalam perkembangan bicara atau penggunaan bahasa yang terbatas. Mereka mungkin juga mengulang kata-kata atau frasa (echolalia) dan kesulitan memahami makna kata.


Gangguan Perkembangan Bahasa: Fokus utama dari gangguan ini adalah kesulitan dalam aspek bahasa, baik dalam memahami maupun mengungkapkan diri, tanpa gejala sosial dan behavioral seperti pada autisme.


 2. Autisme vs Gangguan Perkembangan Komunikasi Sosial (Social Communication Disorder)


Autisme: Selain kesulitan dalam bahasa, anak dengan autisme juga mengalami hambatan dalam interaksi sosial, seperti kesulitan membentuk hubungan emosional dengan orang lain, memahami ekspresi wajah, atau merasa sulit untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial.


Gangguan Perkembangan Komunikasi Sosial: Gangguan ini lebih terfokus pada kesulitan dalam menggunakan bahasa untuk berinteraksi secara sosial, tanpa pola perilaku terbatas atau repetitif seperti pada autisme.


 3. Autisme vs Gangguan Perkembangan Berulang atau Stereotipik


Autisme: Anak dengan autisme cenderung menunjukkan perilaku yang terbatas atau berulang, seperti minat yang sangat fokus pada objek atau aktivitas tertentu, serta kecenderungan untuk menjalani rutinitas yang konsisten.


Gangguan Perkembangan Berulang atau Stereotipik: Fokus utama pada gangguan ini adalah pada pola perilaku berulang atau stereotipik tanpa adanya defisit dalam interaksi sosial atau komunikasi yang terlihat pada autisme.


 4. Autisme vs Gangguan Perkembangan Sensorik


Autisme: Sensitivitas sensorik sering kali ditemukan pada anak dengan autisme, di mana mereka bisa sangat peka terhadap suara, cahaya, atau tekstur tertentu, atau sebaliknya kurang responsif terhadap rangsangan sensorik.


Gangguan Perkembangan Sensorik: Gangguan ini lebih berfokus pada gangguan dalam pengolahan atau toleransi terhadap rangsangan sensorik, tanpa keterlambatan dalam komunikasi atau interaksi sosial seperti pada autisme.


 Kesimpulan


Memahami perbedaan antara autisme dan gangguan perkembangan lainnya adalah langkah penting dalam mendukung pengenalan dini dan penanganan yang tepat. Setiap anak dengan gangguan perkembangan memiliki kebutuhan yang unik, dan diagnosis yang akurat memungkinkan untuk memberikan intervensi yang sesuai agar mereka dapat mencapai potensi maksimal mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Gejala Umum Autism pada Anak




Autisme adalah gangguan perkembangan yang kompleks dan mempengaruhi interaksi sosial, komunikasi, perilaku, dan pola pikir seseorang. Meskipun setiap individu dengan autisme memiliki pengalaman yang unik, ada beberapa gejala umum yang sering terlihat pada anak-anak dengan autisme. Memahami gejala ini dapat membantu dalam mendeteksi kondisi ini lebih awal sehingga intervensi dapat diberikan sesegera mungkin.


 1. Masalah dalam Interaksi Sosial


Anak-anak dengan autisme sering menghadapi kesulitan dalam berinteraksi sosial. Mereka mungkin cenderung terisolasi, kesulitan membentuk hubungan dengan teman sebaya, atau kurang peka terhadap ekspresi wajah dan perasaan orang lain. Misalnya, mereka mungkin tidak menanggapi senyuman atau tidak mengembangkan keterampilan untuk berbagi permainan atau minat dengan orang lain.


 2. Kesulitan dalam Berkomunikasi


Komunikasi adalah hal lain yang sering menonjol pada anak dengan autisme. Mereka mungkin mengalami keterlambatan dalam perkembangan bahasa, memiliki keterbatasan dalam menggunakan bahasa verbal, atau mengulang kata atau frasa (echolalia). Beberapa anak mungkin juga menghadapi kesulitan dalam memahami bahasa tubuh, ekspresi wajah, atau intonasi suara.


 3. Perilaku yang Terbatas atau Berulang


Anak-anak dengan autisme sering menunjukkan pola perilaku yang terbatas atau berulang. Contohnya termasuk minat atau aktivitas yang sangat fokus pada hal tertentu, seperti mengoleksi atau mengatur mainan dalam pola tertentu. Mereka mungkin juga sangat sensitif terhadap perubahan rutinitas atau lingkungan, sehingga bisa mengalami stres yang berlebihan jika terjadi perubahan kecil.


 4. Kesulitan dalam Penyesuaian dengan Perubahan


Anak-anak dengan autisme cenderung kesulitan menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi di sekitar mereka. Hal ini bisa mencakup reaksi yang berlebihan terhadap perubahan jadwal atau lingkungan, serta kesulitan dalam mentransisi dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya.


 5. Sensitivitas Sensorik


Banyak anak dengan autisme memiliki sensitivitas sensorik yang berbeda. Mereka bisa menjadi terlalu peka terhadap suara, cahaya, atau tekstur tertentu, atau sebaliknya kurang sensitif terhadap rangsangan tertentu seperti rasa sakit atau suhu.


 Mengakhiri Pemahaman tentang Autisme pada Anak


Penting untuk diingat bahwa setiap anak dengan autisme adalah individu yang unik dengan kebutuhan dan minatnya sendiri. Gejala-gejala yang terlihat pada anak dengan autisme dapat bervariasi dalam tingkat keparahan dan bisa mengalami perubahan seiring dengan perkembangan mereka. Deteksi dini dan intervensi yang tepat waktu dapat memberikan manfaat besar dalam membantu anak mengatasi tantangan mereka dan mencapai potensi maksimal mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Pengenalan tentang Autism pada Anak




Autisme adalah gangguan perkembangan yang memengaruhi cara seorang anak berinteraksi sosial, berkomunikasi, serta menunjukkan perilaku yang terbatas, repetitif, dan sering kali intensif terhadap minat khusus. Gangguan ini dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan sehari-hari anak, mulai dari interaksi dengan teman sebaya di sekolah hingga adaptasi dalam lingkungan yang berbeda.


Setiap anak dengan autisme memiliki pengalaman yang unik, dengan spektrum gejala yang bervariasi dari ringan hingga parah. Beberapa anak mungkin menunjukkan kecerdasan tinggi dan kemampuan khusus dalam bidang tertentu, sementara yang lain mungkin mengalami tantangan dalam berbicara, mengekspresikan emosi, atau beradaptasi dengan perubahan rutinitas.


Penting untuk diingat bahwa autisme bukanlah penyakit yang dapat disembuhkan, tetapi merupakan kondisi neurologis yang memerlukan pendekatan yang holistik dan dukungan yang sesuai. Diagnosis dini dan intervensi yang tepat dapat membantu anak dengan autisme mengembangkan potensi mereka secara maksimal, baik dalam hal kemampuan sosial, kemandirian, maupun prestasi akademis.


Dalam mendukung anak-anak dengan autisme, pendekatan yang sensitif, pemahaman tentang kebutuhan mereka, serta lingkungan yang mendukung merupakan kunci untuk memfasilitasi perkembangan mereka dengan baik. Dengan mendorong inklusi, kesadaran, dan penerimaan terhadap neurodiversitas, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi semua anak, termasuk mereka yang hidup dengan autisme.

Kebahagiaan dan Prestasi Anak-anak dengan Autisme: Kisah-kisah Inspiratif

 



Autisme, sering kali salah dipahami dan masih dianggap tabu, tidak menghalangi potensi anak-anak yang hidup dengan kondisi ini. Bahkan, banyak anak dengan autisme tidak hanya menemukan kebahagiaan dengan cara mereka yang unik, tetapi juga mencapai prestasi luar biasa yang menginspirasi orang di sekitar mereka. Kisah-kisah ini menggambarkan ketangguhan, kreativitas, dan ketekunan anak-anak dengan autisme, yang mampu berkembang dan sukses di tengah segala rintangan.


1. Seniman Luar Biasa


Kenali Alex, seorang bocah berusia 10 tahun yang didiagnosis dengan gangguan spektrum autisme (ASD) sejak usia dini. Meskipun menghadapi tantangan awal dalam komunikasi dan interaksi sosial, Alex menemukan passion-nya dalam lukisan. Karya seninya, yang dikenal karena warna-warna cerah dan detail-detail yang rumit, telah menarik perhatian di galeri-galeri lokal dan bahkan di dunia maya. Melalui seninya, Alex tidak hanya mengekspresikan diri tetapi juga menyampaikan emosi dan pandangan yang memikat penonton di seluruh dunia.


2. Prodigy Musikal


Sarah, yang didiagnosis dengan autisme pada usia 5 tahun, menunjukkan bakat luar biasa dalam bidang musik. Sejak kecil, ia menunjukkan kemampuan istimewa dalam memainkan alat musik dan menciptakan melodi-melodi yang menggugah emosi. Meskipun memiliki sensitivitas sensorik, dedikasi Sarah terhadap musik membawanya meraih beberapa penghargaan bergengsi dalam kompetisi musik. Penampilannya tidak hanya memukau penonton tetapi juga mengubah pandangan tentang kemampuan anak-anak dengan autisme dalam dunia seni.


3. Juru Fisika Muda


Michael, yang baru berusia 12 tahun, telah menjadi sensasi lokal di bidang ilmu pengetahuan. Didiagnosis dengan autisme sejak balita, Michael membangun ketertarikan pada astronomi dan fisika. Kemampuannya dalam memahami konsep-konsep ilmiah yang kompleks telah menghasilkan pengakuan di berbagai pameran sains dan kompetisi. Keinginan Michael untuk menjelajahi alam semesta telah mendorongnya untuk mengejar karir dalam bidang astrofisika, membuktikan bahwa autisme tidak menghalangi keingintahuan intelektual dan kesuksesan akademis.


4. Advokat Perubahan


Emily, yang didiagnosis dengan gangguan spektrum autisme saat remaja, muncul sebagai advokat bersemangat untuk hak-hak disabilitas dan inklusi. Meskipun menghadapi intimidasi dan isolasi sosial selama masa sekolah, Emily menemukan suaranya melalui tulisan dan pidato di muka umum. Kampanye advokasinya yang kuat telah meningkatkan kesadaran tentang penerimaan autisme dan mendorong sekolah dan komunitas untuk merangkul neurodiversitas. Ketekunan Emily dalam menciptakan masyarakat yang lebih inklusif telah memberikan dampak yang mendalam bagi teman sebayanya dan para pendidik.


5. Atlet yang Melampaui Harapan


David, yang didiagnosis dengan autisme sejak usia dini, menemukan cintanya pada olahraga melalui renang. Meskipun menghadapi tantangan koordinasi awal dan sensitivitas sensorik, ketekunan dan dedikasi David membawanya meraih prestasi gemilang dalam renang kompetitif. Ia telah mencetak beberapa rekor dalam kelompok usianya dan meraih penghargaan di kompetisi regional dan nasional. Prestasi David tidak hanya menyoroti kepiawaiannya dalam olahraga tetapi juga menunjukkan pentingnya olahraga dalam membentuk rasa percaya diri dan keterampilan sosial pada anak-anak dengan autisme.


Kesimpulan


Kisah-kisah ini tentang kebahagiaan dan kesuksesan anak-anak dengan autisme dalam berbagai bidang adalah bukti kuat akan potensi mereka yang tak terbatas. Meskipun mereka menghadapi tantangan, bakat unik, ketekunan, dan ketangguhan mereka tetap bersinar, menginspirasi orang lain untuk mengakui dan merayakan neurodiversitas. Dengan mendukung kekuatan mereka dan mewujudkan mimpi-mimpi mereka, kita dapat menciptakan dunia di mana setiap anak, tanpa memandang kemampuannya, memiliki kesempatan untuk berkembang dan memberikan dampak yang berarti.


Biarkan kisah-kisah inspiratif ini menyalakan harapan dan kekaguman akan kemampuan luar biasa anak-anak dengan autisme, membuktikan bahwa dengan cinta, dukungan, dan pengertian, mereka dapat mencapai impian mereka dan menerangi dunia dengan cara mereka sendiri.

Sunday, August 31, 2014

Terapi dini, intensif dan terpadu pada penyandang autis

Pada anak penyandung autis akan ada gejala yang sangat menonjol pada sikapnya  yaitu cenderung tidak ambil pusing urusan orang orang sekelilingnya, tidak suka seperti orang normal berkomunikasi, berinteraksi, dia akan sibuk dengan "dunianya" sendiri. Apalagi disuruh memahami berkomunikasi secara verbal, wah susah.Didalam beberapa juga diketahui kalau orang dengan autisme akan merasa sulit yang namanya multitasking, cenderung kaku, susah apalagi disuruh melakukan tugas-tugas yang berurutan.Gangguan kesulitan berkomunikasi beinteraksi lingkungannya bisa terjadi seumur hidup.
Adapun ciri fisik yang ditemukan pada anaK autisme,:
- Wajah yang lebih lebar, begitu juga mata yang lebih besar.
- Bagian tengah wajahnya lebih pendek, pipi dan hidung.
- Mulut dan philtrum, antara hidung dan bibir lebih luas.

Namun autis dapat disembuhkan melalui terapi intensif nan terpadu, dan diet khusus bagi penyandangnya.
pun Adterapi prilaku diantaranya menggunakan metode yang dikembangkan Ivar Lovaas dari UCLA yaitu konsep Aplied behavior Analysis (ABA).Pastikan melakukan diet tidak mengkonsumsi terigu, coklat dan susu karena berdasarkan kajian terapi biomedik jenis makanan ini memperparah kondisinya.
Kalau diet gula, terigu dan coklat dapat dilakukan, Insya Allah akan memperbaiki fungsi-fungsi abnormal pada otaknya sehingga saraf pusat bekerja lebih baik dan berbagai gejala autis dapat dikurangi bahkan dihilangkan.Apabila dipandang perlu masih ada terapi lain sebagai penunjang berupa medikamentosa, okupasi dan fisik, wicara, bermain dan terapi khusus.Kunci dari semua itu adalah terapi dini, intensif dan terpadu pada penyandang autis akan bisa sembuh, katanya.Ya utamanya terlebih dulu minta , berdoa dulu pada Allah. Allah lah tempat manusia memminta, Allah tidak pernah bosen dimintai hambanya, beda dengan manusia. Barulah kita ikhtiar lewat apa saja yang halal dan yang barokah. Insya Allah akan mendengar.
Innallaha samiun do'a. Lebih lanjut kita perlu perhatikan pendapat pendapat berikut.



Cara mengobati penyakit autisme

” Tahitian Noni mampu memperbaiki / menyumbat jaringan saraf otak yang bocor sehingga protein, glukosan dan zat-zat nutrisi yang lain tidak sampai keluar dari jaringan syaraf di otak.” autis

Autis adalah gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak, yang gejalanya sudah timbul sebelum  anak itu mencapai usia tiga tahun.
Penyebab autis adalah gangguan neurobiologis yang mempengaruhi fungsi otak sedemikian rupa sehingga anak tidak mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia luar secara efektif.Obat Penyakit Autis
Gejala yang sangat menonjol adalah sikap anak yang cenderung tidak mempedulikan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya, seolah menolak berkomunikasi dan berinteraksi, serta seakan hidup dalam dunianya sendiri.
Anak autistik juga mengalami kesulitan dalam memahami bahasa dan berkomunikasi secara verbal.

Obat Penyakit Autis
Disamping itu seringkali (prilaku stimulasi diri) seperti berputar-putar, mengepak-ngepakan tangan seperti sayap, berjalan berjinjit dan lain sebagainya.Obat Penyakit Autis
Gejala autisme sangat bervariasi. Sebagian anak berperilaku hiperaktif dan agresif atau menyakiti diri, tapi ada pula yang pasif. Mereka cenderung sangat sulit mengendalikan emosinya dan sering tempertantrum (menangis dan mengamuk). Kadang-kadang mereka menangis, tertawa atau marah-marah tanpa
sebab yang jelas.
Selain berbeda dalam jenis gejalanya, intensitas gejala autis juga berbeda-beda, dari sangat ringan sampai sangat berat.Oleh karena banyaknya perbedaan-perbedaan tersebut di antara masing-masing individu, maka saat ini gangguan perkembangan ini lebih sering dikenal sebagai Autistic Spectrum Disorder (ASD) atau Gangguan Spektrum Autistik (GSA).
Autisme dapat terjadi pada siapa saja, tanpa membedakan warna kulit, status sosial ekonomi maupun pendidikan seseorang. Tidak semua individu ASD/GSA memiliki IQ yang rendah. Sebagian dari mereka dapat mencapai pendidikan di perguruan tinggi. Bahkan ada pula yang memiliki kemampuan luar biasa di
bidang tertentu (musik, matematika, menggambar).Obat Penyakit Autis Prevalensi autisme menigkat dengan sangat mengkhawatirkan dari tahun ke tahun. Menurut Autism Research Institute di San Diego, jumlah individu autistik pada tahun 1987 diperkirakan 1:5000 anak. Jumlah ini meningkat dengan sangat pesat dan pada tahun 2005 sudah menjadi 1:160 anak. Di Indonesia belum ada data yang akurat oleh karena belum ada pusat registrasi untuk autisme. Namun diperkirakan angka di Indonesia pun mendekati angka di atas. Autisme lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita, dengan perbandingan 4:1

Ada tiga ciri fisik yang ditemukan pada anak-anak dengan autisme.
VIVAnews – Anak dengan autisme ternyata memiliki karakteristik wajah tertentu saat dibandingkan dengan anak normal. Ini merupakan hasil analisis tim peneliti dari University of Missouri, Amerika Serikat, yang melakukan pemetaan wajah, pada anak dengan autisme dan juga anak normal.
Wajah dan otak memang berkembang bersama-sama dan saling memengaruhi. Hal ini dimulai sejak embrio dan terus berlanjut hingga masa remaja. Para ilmuwan percaya bahwa hal ini bisa membantu mereka mengetahui secara lebih detail ketika autisme mulai terjadi pada anak.
 Mereka juga mengungkapkan, hal ini bisa memberikan petunjuk terkait penyebab autisme. Autisme merupakan gangguan yang membuat seseorang kesulitan berkomunikasi dengan lingkungannya, seumur hidup.
Dari kesimpulan tim yang dipimpin oleh Profesor Kristina Aldridge, ada tiga ciri fisik yang ditemukan pada anak-anak dengan autisme, yaitu:
1. Memiliki wajah yang lebih lebar, termasuk mata yang lebih besar.
2. Bagian tengah wajahnya lebih pendek, termasuk pipi dan hidung.
3. Memiliki mulut dan philtrum, area antara hidung dan bibir, yang lebih luas.

“Jika bisa mengidentifikasi saat perubahan wajah terjadi, kita bisa mengetahui kapan autisme mulai berkembang pada seorang anak. Mengetahuinya bisa mempermudah kita menganalisis pemicu autis, baik terkait faktor genetik maupun lingkungan,” kata Aldridge, seperti dikutip dari Daily Mail.
Tim menganalisis 64 wajah anak lelaki dengan autisme dan 41 anak laki-laki normal yang berusia delapan hingga 12 tahun. Foto mereka diambil menggunakan kamera dengan sistem tiga dimensi. Dari foto, lalu dipetakan 17 titik pada wajah, seperti sudut mata.
Penghitungan geometri pun dilakukan pada keseluruhan wajah, menggunakan 17 titik-titik tersebut. Hasilnya, ketika dilakukan perbandingan dengan wajah anak normal, ada perbedaan statistik yang signifikan dalam bentuk wajah.

Ciri Fisik Anak Autis Terletak di Mata dan Bibir
AN Uyung Pramudiarja – detikHealth
Jakarta, Autisme termasuk gangguan perilaku, sehingga agak susah dikenali secara fisik. Namun sebuah penelitian berhasil memetakan beberapa perbedaan bentuk wajah pada penyandang autis, terutama pada lebar bibir dan jarak antara kedua mata.
Penelitian yang dilakukan para ilmuwan dari University of Missouri ini menyimpulkan, perkembangan wajah dan otak terjadi bersamaan sejak di dalam kandungan. Keduanya juga saling mempengaruhi, namun tidak diketahui pasti bagaimana mekanisme sebenarnya.
Dengan memetakan perbedaan bentuk wajah pada penyandang autis, maka diharapkan orangtua bisa mendeteksi lebih dini jika ada anak-anak yang menunjukkan gejala autisme. Deteksi dini akan mempermudah pendampingan, sehingga pertumbuhan mental dan kecerdasannya bisa disesuaikan.
Berikut ini beberapa perbedaan pada wajah, yang membedakan anak-anak penyandang autis seperti dikutip dari Dailymail, Jumat (21/10/2011).
1. Memiliki jarak yang lebih lebar antara kedua mata
2. Bagian tengah wajah lebih sempit, termasuk daerah pipi dan hidung
3. Memiliki bibir dan philtrum (daerah antara hidung dengan bibir) yang lebih lebar.

Ciri-ciri ini diungkap oleh para ilmuwan setelah melakukan pengamatan terhadap 62 anak berusia 12 tahun yang didiagnosis mengidap autisme. Sebagai pembandingnya, para ilmuwan juga mengamati 41 anak yang tidak memiliki riwayat atau gejala klinis autisme.Dalam pengamatan, para ilmuwan memotret wajah para partisipan dengan kamera khusus yang bisa menghasilkan gambar 3-dimensi. Berdasarkan gambar-gambar
tersebut, perbedaan-perbedaan ciri fisik akhirnya ditemukan di 17 titik antara lain di ujung mata, philtrum dan bibir.“Dari temuan ini kita bisa kembangkan untuk mengetahui pada titik mana gangguan autisme mulai terbentuk. Ini akan menjembatani spekulasi antara faktor genetik dengan lingkungan,” ungkap Prof Kristina Aldridge yang memimpin penelitian itu.
Temuan ini sekaligus menguatkan dugaan bahwa gangguan koordinasi otak pemicu autisme sudah terjadi sejak dalam kandungan. Namun hingga kini, para ilmuwan belum menyimpulkan apakah autisme hanya dipengaruhi faktor genetik atau dipengaruhi juga oleh lingkungan.

Orang Autis Sulit Melakukan Multitasking
Vera Farah Bararah – detikHealth Jakarta,

Bagi beberapa orang melakukan multitasking bukanlah pekerjaan yang sulit, tapi tidak untuk orang autisme. Studi menemukan pekerjaan multitasking akan menjadi tantangan yang cukup sulit bagi orang autisme.Studi yang dilakukan oleh peneliti India mengungkapkan orang dengan autisme akan merasa sulit melakukan multitasking karena mereka cenderung kaku untuk melakukan tugas-tugas yang berurutan.
Dalam studi ini peneliti memberikan serangkaian tugas pada siswa, seperti mengumpulkan dan mengantarkan buku serta membuat secangkir coklat panas yang semuanya harus dilakukan dalam waktu 8 menit.Kegiatan ini dilakukan dalam lingkungan virtual yang dihasilkan oleh komputer. Peneliti menemukan para siswa tidak menyimpang dari urutan tugas yang ada didaftar, tapi mereka melanggar beberapa aturan tugas. Studi ini dipimpin oleh Dr Gnanathusharan Rajendran, selaku dosen di Psychology at Strathclyde, serta melibatkan peneliti dari University of Edinburgh dan Liverpool John Moores University.
“Murid dengan autisme bisa menyelesaikan dengan baik jika diberikan satu tugas, tapi kesulitan akan muncul ketika ia diminta melakukan beberapa tugas dalam waktu yang sama,” ujar Dr Rajendran, seperti dikutip dari Medindia, Jumat (19/8/2011).

Dr Rajendran menuturkan studi ini merupakan yang pertama kalinya menggunakan sebuah lingkungan virtual, sehingga bisa lebih dekat dalam memeriksa dan melihat kemungkinan dibalik masalah tersebut.
“Penelitian kami menunjukkan masalah yang nyata pada orang muda dengan autisme yang melakukan multitasking, dan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mencari solusi yang memungkinkan,” ungkapnya.

Autisme Bisa Hilang di Usia 18 Tahun
Liputan6.com, Jakarta : Penelitian menunjukkan beberapa anak yang didiagnosis Autis pada usia anak, ketika dewasa gejala tersebut hilang.Sebuah penelitian skala kecil yang diterbitkan dalam Journal of Child
Psychology and Psychiatrymendiagnosis anak autis dari usia balita hingga 21 tahun. Penelitian menunjukkan kalau anak autis akan sembuh pada usia 18 sampai 21 tahun.
Menurut penelitian, anak tidak lagi menunjukkan kesulitan dalam pidato maupun berkomunikasi, mengenali wajah orang atau interaksi sosial dan beberapa perilaku lainnya.“Meskipun diagnosis autisme biasanya tidak hilang dari waktu ke waktu, penemuan ini menunjukkan kalau mungkin memang ada rentang waktu bagi anak autis untuk bisa meningkatkan kemampuannya,” kata Thomas Insel, Director of the National Institute of Mental Health.
Penelitian sebelumnya memang menyebutkan kalau autisme akan hilang dari waktu ke waktu.Para penulis kini mempertanyakan apakah diagnosis awal telah akurat dan apakah mata pelajaran yang telah diajarkan oleh rekan-rekan mereka. Para peneliti mengatakan untuk kedua kasus ini ‘ya’.Penelitian yang dipimpin oleh Deborah Fein dari University of Connecticut, dalam laporan akhirnya menuliskan kalau anak-anak telah didiagnosis dan diperiksa oleh para ahli di luar kelompok penelitian.Hasil analisis menunjukkan kalau 34 gejala autisme hilang ketika dewasa.Tapi gejala lain, termasuk keterlambatan bahasa dan perilaku berulang,
sudah setara dengan kelompok lainnya.Pengujian kontemporer dari subjek penelitian semuanya bersekolah di kelas utama dengan tidak ada layanan khusus. Hal ini menegaskan kalau orang dewasa yang dulunya didiagnosis autisme tidak lagi dianggap sebagai kekurangan.
Tetapi penulis menekankan bahwa studi ini menawarkan pengetahuan bukan pada persentase anak-anak dengan gangguan spektrum autisme atau ASD.“Semua anak-anak dengan ASD mampu membuat kemajuan dengan terapi intensif, namun dengan keadaan kita saat ini pengetahuanlah yang paling tidak mencapai hasil yang optimal,” kata penulis penelitian, Fein.“Harapan kami adalah penelitian ini lebih lanjut akan membantu kita untuk lebih memahami mekanisme perubahan anak sehingga setiap anak dapat memiliki kehidupan terbaik,” katanya. (Fit/Igw)

Autis dapat disembuhkan dengan dua cara ini
Sabtu, 29 Maret 2014 20:39 WIB | 10.855 Views
Pewarta: Ikhwan Wahyudi
Autis dapat disembuhkan dengan dua cara ini
Ilustrasi Penderitaa Autis (Grafis)
Padang (ANTARA News) - Psikiater dan pemerhati autisme, dr Kresno Mulyadi, Sp.KJ menyatakan autis dapat disembuhkan melalui terapi intensif nan terpadu, dan diet khusus bagi penyandangnya."Jika ada yang berpendapat autisme sudah baku dan tidak ada lagi harapan itu paradigma lama. Berdasarkan temuan terbaru gangguan Autis dapat disembuhkan melalui terapi dini secara intensif dan terpadu", kata Kresno di Padang, Sabtu, pada Seminar Autism is Curable (autisme bisa sembuh). Ia menerangkan terapi yang dapat dilakukan meliputi terapi prilaku diantaranya menggunakan metode yang dikembangkan Ivar Lovaas dari UCLA yaitu konsep Aplied behavior Analysis (ABA).Terapi ABA dilakukan intensif selama 40 jam per minggu dalam dua tahun di mana berdasar hasil penelitian terjadi peningkatan IQ yang besar pada penyandangnya, katanya.Kemudian, penyandang autis harus melakukan diet tidak mengkonsumsi terigu, coklat dan susu karena berdasarkan kajian terapi biomedik jenis makanan ini memperparah kondisinya.Ia menjelaskan pada penyandang autis terjadi peningkatan daya serap di mana protein yang seharusnya tidak lolos pada makanan yang mengandung cokelat, terigu dan susu masuk ke peredaran darah dan terbawa ke otak.Setelah berada di otak zat yang terkandung pada makanan ini dinilai oleh saraf memiliki rumus kimia seperti morfin sehingga memperburuk kondisi penyandang autis dan dapat diibaratkan tengah mengkonsumsi morfin.Sedangkan makanan yang mengandung terigu akan memperparah pencernaan penyandang autis yang umumnya berjamur, kata dia.Oleh karena itu pada penyandang autis, diet gula, terigu dan coklat akan memperbaiki fungsi-fungsi abnormal pada otaknya sehingga saraf pusat bekerja lebih baik dan berbagai gejala autis dapat dikurangi bahkan dihilangkan.Setelah itu jika diperlukan masih ada terapi lain sebagai penunjang berupa medikamentosa, okupasi dan fisik, wicara, bermain dan terapi khusus.Kunci dari semua itu adalah terapi dini, intensif dan terpadu sehingga penyandang autis akan bisa sembuh, katanya.Ia mengatakan di Indonesia telah banyak penyandang autis yang dapat disembuhkan dengan terapi tersebut dan berhasil menyelesaikan studinya hingga meraih gelar sarjana.Autis pertama kali diperkenalkan Leo Kanner pada 1943 dari bahasa Yunani "Autos" yang memiliki arti sendiri atau seolah-olah hidup di dunianya sendiri.
Autis merupakan gangguan perkembangan neurobiologis berat pada anak sehingga menimbulkan masalah dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.Gejala Autis dapat dikenali dengan ciri-ciri minimnya interaksi dan emosi yang labil serta buruknya kualitas komunikasi penyandangnya pada tiga tahun
pertama kehidupannya.Penyandang autis memiliki gangguan interaksi sosial , komunikasi, imajinasi serta pola prilaku yang berulang serta tidak mengikuti perubahan rutinitas sehingga mereka terlihat aneh dan berbeda dengan anak lain.Autis dapat terjadi pada anak siapa saja tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, budaya dan etnik di mana berdasarkan data 2012 dari 1.000 orang terdapat delapan penyandang autis didunia, sedangkan di Indonesia  mencapai 2,4 juta orang dengan penambahan penyandang baru 500 orang per tahun.
Autis disebabkan oleh adanya gangguan perkembangan otak akibat faktor genetik serta kondisi lingkungan berupa buruknya kualitas udara menyebabkan terjadinya pencemaran logam berat.Salah seorang warga Padang yang keluarganya menderita penyakit ini, Anwar (45), menilai informasi tentang autis dapat disembuhkan ini, akan banyak membantu penderitanya karena harapan akan kembali sembuh menjadi terbuka.











Tuesday, August 26, 2014

PENANGANAN ANAK AUTIS

Umumnya anak autis awalnya tidak bisa bicara.Dalam keluarga jarang sekali anggota keluarga punya pengetahuan tentang penyakit ini. Dengan kesibukan masing masing anggota keluarga sering kali anak ini terabaikan. Jarang sekali yang sabar untuk merawatnya apalagi yang hubungannya jauh walau dalam keluarga. Kadang kadang untuk makan saja harus dibentak bentak, kadang anak bisa menurut, kadang tambah gak karuan. Belum lagi kalau sudah agak besar, kalau tidak dijaga ketat bisa kabur keluar rumah, mencarinya sak tetangga jadi ikut repot, kalau tetangga ambil perhatian. Sebaiknya keluarga autis memahami ini semua agar anak tidak bertambah menderita dan sengsara. Berikut informasi yang mungkin bermanfaat merawat mengasuh anak penderita autis.


Autisme adalah kategori ketidakmampuan yang ditandai dengan adanya gangguan dalam komunikasi, interaksi sosial, gangguan indrawi, pola bermain dan perilaku emosi. Anak-anak dengan berkebutuhan khusus seperti autis membutuhkan cara penanganan khusus. Orang tua dan pendidik perlu informasi yang memadai mengenai gangguan pada anak-anak sedini mungkin, sekaligus bagaimana cara menangani yang tepat.


CIRI_CIRI ANAK AUTIS
Beberapa perilaku yang nampak pada anak yang mengalami gangguan autisme antara lain:
Dalam bidang penginderaan anak-anak ini menunjukkan respon yang tidak wajar. Ada yang tampak begitu menikmati jatuhnya sinar matahari dari balik jendela, ada yan gsibuk memutar-mutar benda bulat di depannya selama berjam-jam.
Anak autis biasanya mengeksplorasi lingkungannya melalui indera peraba, pengecapan, dan pembauan seperti anak-anak kecil di bawah usiannya. Setiap kali memegang benda, anak autis cenderung mencium baunya terlebih dahulu.
Anak autis menunjukkan kurang sekali kontak mata dengan orang lain yang biasanya disertai dengan perilakuyang tidak wajar lainnya seperti tertarik dengan sinar atau benda gemerlap.
Beberapa anak autis bahkan tidak pernah berbicara walau mereka mengeluarkan suara-suara. Suara-suara yang dikeluarkan oleh anak autis itu tidak jelas dan biasanya berupa teriakan-teriakan.
Suka melambaikan tangan, berjalan berjingkat, goyang-goyang tubuh dengan ekspresi wajah yang aneh, badannya sangat kaku, kadang badannya berputar-putar tanpa merasa pusing.

CARA MENGASUH ANAK AUTIS
Mengasuh anak autis sebaiknya dengan mengembangkan rutinitas yang konsisten pada anak, karena anak autis ini akan mengalami kesulitan pada suatu perubahan yang tidak dia inginkan dan tidak terstruktur. Berikut adalah beberap cara mengsuh anak autis:
Cari sebab dibalik gejala, misal saat anak mengamuk. Begitu menemukan penyebabnya, Anda bisa menyesuaikan diri.
Jangan paksa bicara, karena bagi sebagian besar penyandang autisme, ungkapan verbal tak ada artinya. Pastikan diri Anda paham apa yang dikomunikasikan melalui ekspresinya.
Belajar hidup dengan perilaku stereotip. Saat di tempat umum ajarkan anak berperilaku sebagaimana mestinya. Tetapi di rumah, biarkan dia sebagaimana dirinya. Terlalu banyak stimulasi, dan tuntutan perilaku baru, akan sulit ditoleransi oleh anak autis ini. Program mengurangi perilaku tertentu harus dilakukan dengan hati-hati.Kerjasama dengan sekolah, bahwa kurikulum untuk anak penyandang autisme berpusat pada self care dan keterampilan bersosialisasi.
Jauhkan anak dari role model yang berperilaku kasar. Anak penyandang autisme cenderung meniru perilaku tanpa pemahaman mengapa orang melakukannya.Jangan tuntut anak untuk bisa beradaptasi dengan orang baru dan situasi baru. Biarkan dia menjaga jarak dan punya peluang untuk menyingkir.

TEKNIK MENGAJAR ANAK AUTIS DI KELAS
Mengajar anak autis merupakan tugas yang menantang, terutama bagi yang belum pernah memiliki pengalaman menangani anak-anak  ketidakmampuan belajar. Meskipun lambat, anak autis bisa dilatih untuk membaca, menulis, dan elajar. Diperlukan kesabaran dan ketekunan ketika menghadapi anak-anak dengan autisme. Berikut ini beberapa teknik yang bisa dilakukan untuk mengajar anak-anak dengan autisme:
Tidak Melakukan Modifikasi Jadwal. Anak-anak autis tidak suka variasi karena mereka lebih menyukai rutinitas yang sama serta kebiasaan berulang.
Oleh karena itu, sebaiknya tidak melakukan perubahan jadwal untuk anak dengan autisme. Namun, bukan tidak mungkin untuk melakukan sedikit modifikasi jadwal bila memang dibutuhkan.
Memilih  Gaya Belajar. Setiap anak memiliki gaya belajar tertentu. Beberapa anak mungkin lebih cepat menyerap informasi dengan cara mendengar, sementara anak yang lain lebih cenderung pada gaya belajar visual. Pada beberapa anak, media gambar menjadi bahasa pengantar utama dalam belajar.
Sebagai guru atau orang tua, Anda perlu mencari tahu metode mana yang membantu anak untuk fokus pada apa yang diajarkan. Anak autis cenderung kehilangan minat bila mereka tidak mengerti apa yang diajarkan. Jadi, memilih gaya belajar yang sesuai akan membuat anak mampu beradaptasi lebih baik.
Menggunakan Bahasa Sederhana. Menggunakan kata-kata sederhana serta kalimat pendek ketika berkomunikasi dengan anak-anak autis sangat dianjurkan.
Kalimat yang panjang dan kompleks hanya akan membuat anak bingung. Kalimat yang pendek lebih mudah dibaca, ditulis ulang, serta dipahami oleh anak.
Menggunakan Objek Menarik Ketika Belajar. Anak-anak autis biasanya memiliki mainan favorit. Gunakan mainan favoritnya sebagai salah satu teknik untuk mengajar mereka. Bila mainan favorit anak adalah mobil, Anda bisa bercerita tentang kisah-kisah yang melibatkan mobil. Bisa juga menggunakan mainan mobil kecil untuk mendapatkan perhatian anak.
Menangani Masalah Menulis. Sebagian besar anak autis menghadapi masalah dengan keteralmpilan motorik mereka. Anak autis tidak dapat mengendalikan tangan sehingga kesulitan untuk menulis rapi. Hal ini bisa membuat anak merasa putus asa. Untuk mengatasi hal tersebut, mintalah anak untuk mengetik di komputer atau di laptop. Mengetik di komputer bisa membantu anak belajar lebih cepat tanpa merasa kecewa saat melihat hasil tulisan mereka. Selain itu, cara ini bisa memotivasi anak untuk menikmati proses menulis.
Mengenali Bakat. Anak-anak dengan autisme biasanya sedikit lebih lambat dalam berkomunikasi dan proses belajar dibandingkan dengan anak-anak lain seusia mereka. Namun, banyak diantara anak-anak autis yang memiliki bakat melukis, memainkan alat musik, membuat kerajinan, bahkan pemrograman komputer. Pikiran mereka sangat kreatif dan seringkali menghasilkan karya seni yang luar biasa. Penting bagi guru atau orang tua untuk mengidentifikasi bakat anak autis serta membantu mengembangkannya. Bakat ini bisa dipoles sehingga dapat digunakan sebagai keterampilan untuk kehidupan maupun karir mereka di masa depan.

PEMILIHAN MAKANAN UNTUK ANAK AUTIS
Berikut ini adalah hal-hal yang harus diperhatikan bagi orang tua dalam memberikan makanan bagi anak-anak mereka yang menyandang autisme.
Makanan yang dihindari
Makanan yang mengandung gluten, yaitu semua makanan dan minuman yang dibuat dari terigu, '''''''havermuth, dan oat misalnya roti, mie, kue-ku-
Produk-produk lain seperti soda kue, baking soda, kaldu instant, saus tomat dan saus lainnya, serta lada bubuk, mungkin juga menggunakan tepung terigu sebagai bahan campuran. Jadi, perlu hati-hati pemakaiannya. Cermati/baca label pada kemasannya.
Makanan sumber kasein, yaitu susu dan hasil olahnya, misal es krim, keju, mentega, yogurt, dan makanan yang menggunakan susu.
Daging, ikan, atau ayam yang diawetkan dan diolah seperti sosis, kornet, hotdog, sarden, daging asap, ikan asap, dan sebagainya. Tempe juga tidak dianjurkan terutama bagi anak yang alergi jamur karena pembuatannya menggunakan fermentasi ragi.
Buah dan sayur yang diawetkan seperti buah dan sayur dalam kaleng.
Semua jenis jamur segar maupun kering misalnya jamur kuping, jamur merang dan lain-lain.
Buah yang dikeringkan misalnya kismis, aprokot, kurma, pisang, prune, dan lain-lain.
Fruit juice/sari buah yang diawetkan, minuman beralkohol, dan semua minuman yang manis.
Makanan yang dianjurkan
Makanan sumber karbohidrat dipilih yang tidak mengandung gluten, misalnya beras, singkong, ubi, talas, jagung, tepung beras, tapioca, ararut, maizena, bihun, soun, dan sebagainya.
Makanan sumber protein dipilih yang tidak mengandung kasein, misalnya susu kedelai, daging, dan ikan segar (tidak diawetkan), unggas, telur, udang, kerang, cumi, tahu, kacang hijau, kacang merah, kacang tolo, kacang mede, kacang kapri dan kacang-kacangan lainnya.
Sayuran segar seperti bayam, brokoli, labu siam, labu kuning, kangkung, tomat, wortel, timun, dan sebagianya.
Buah-buahan segar seperti apel, anggur, pepaya, mangga, pisang, jambu, jeruk, semangka, dan sebagainya.
Makanan sumber karbohidrat: beras, tepung beras, kentang, ubi, singkong, jagung, dan tales. Roti atau biscuit dapat diberikan bila dibuat dari tepung yang bukan tepung terigu.
Makanan sumber protein seperti udang dan hasil laut lain yang segar.makanan sumber protein nabati seperti kacang-kacangan (almond, mete, kacang kedelai, kacang hijau, kacang polong, dan lainnya). Namun, kacang tanah tidak dianjurkan karena sering berjamur.
Semua sayuran segar terutama yang rendah karbohidrat seperti brokoli, kol, kembang kol, bit, wortel, timun, labu siam, bayam, terong, sawi, tomat, buncis, kacang panjang, kangkung, tomat, dan lain-lain.
Cara mengatur makanan secara umum
Berikan makanan seimbang untuk menjamin agar tubuh memperoleh semua zat gizi yang dibutuhkan untuk keperluan pertumbuhan, perbaikan sel-sel yang rusak dan kegiatan sehari-hari.
Gula sebaiknya dihindari, khususnya bagi yang hiperaktif dan ada infeksi jamur. Fruktosa dapat digunakan sebagai pengganti gula karena penyerapan fruktosa lebih lambat dibanding gula/sukrosa.
Minyak untuk memasak sebaiknya menggunakan minyak sayur, minyak jagung, minyak biji bunga matahari, minyak kacang tanah, minyak kedelai, atau minyak olive. Bila perlu menambah konsumsi lemak, makanan dapat digoreng.
Cukup konsumsi serat, khususnya serat yang berasal dari sayuran dan buah-buahan segar. Konsumsi sayur dan buah 3-5 porsi per hari.
Pilih makanan yang tidak menggunakan food additive (zat penambah rasa, zat pewarna, zat pengawet).
Bila keseimbangan zat gizi tidak dapat dipenuhi, pertimbangkan pemberian suplemen vitamin dan mineral (vitamin B6, vitamin C, seng, dan magnesium).
Membaca label makanan untuk mengetahui komposisi makanan secara lengkap dan tanggal kadaluwarsanya.
Berikan makanan yang cukup bervariasi. Bila makanan monoton, maka anak akan bosan.
Hindari junk food seperti yang saat ini banyak dijual, ganti dengan buah dan sayuran segar.
Semoga saja informasi di atas bermanfaat. Dan sayangilah anak Anda, terimalah mereka apa adanya. Salam hangat.


source : duniaanakbalita.blogspot.com

Featured Post

Cara Membantu Anak Autis Mengembangkan Keterampilan Sosial di Rumah

  Purityfic Kids Multivitamin & Minerals Tablet Hisap Australia Tambah Nafsu Makan Anak Anak dengan spektrum autisme memiliki tantangan ...